Jejak Islam di Inggris


 
 
Negara Inggris Raya dahulu kala tersohor di dunia sebagai negara kolonial. Jajahannya banyak, tersebar di hampir semua kawasan. Mulai dari benua Asia, Afrika, hingga Amerika Utara. Maka tak heran, Inggris kini semakin multi kultur dan agama dengan banyaknya imigran dari negara-negara bekas jajahannya itu.

Di antara komunitas masyarakat yang terbesar di Inggris adalah komunitas umat Muslim. Jumlahnya bahkan mencapai terbesar ketiga di Eropa setelah Prancis dan Jerman. Tercatat dari sensus tahun 1991, jumlah pemeluk agama Islam di Inggris mencapai angka 1,5 juta jiwa atau 2,6 persen hingga 3,2 persen total penduduk sebanyak 47 juta jiwa. Sekarang jumlah muslim Inggris membengkak sampai angka 3 juta jiwa.
Sebagian besar Muslim adalah pendatang atau imigran. Diketahui bahwa imigrasi kaum Muslim pertama ke Inggris terjadi sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19 lalu. Mereka merupakan para kelasi kapal dari negeri Muslim yang direkrut oleh East India Company (Perusahaan India Timur).
Usai pembukaan Terusan Suez tahun 1869 seiring makin meluasnya ekspansi kolonial Inggris, arus imigran pun kian meningkat ke negara tersebut. Tak berapa lama, para imigran ini sudah mulai membentuk komunitas-komunitas kecil dan pemukiman di kota pelabuhan semisal Cardiff, South Shields (dekat Newcastle), Liverpool dan juga ibukota London.
Komunitas Muslim asal Afrika Barat muncul di Liverpool dan tumbuh pesat sejak abad 19. Tak jarang kegiatan komunitas Muslim ini menarik perhatian kalangan warga Inggris. Misalnya sewaktu seorang Muslim keturunan bangsawan bernama Abdullah (Henry William), tahun 1901 mempelopori pembangunan masjid. Bahkan sebelumnya masjid di Woking-London berdiri berkat upaya sebuah kelompok elite Muslim di sana. Masjid tersebut selalu penuh dengan kegiatan agama dan menjadi pusat dakwah para penerjemah Alquran terkenal seperti Marmaduke Pickthall dan Abdullah Yusuf Ali. Masjid tersebut juga kondang lantaran hubungan eratnya dengan gerakan Ahmadiyah cabang Lahore.
Sebuah rencana besar bagi pembangunan sebuah masjid pusat di London, mendapat dukungan penuh Raja George IV tahun 1944. Ini merupakan respon atas pembangunan masjid agung di Paris, Prancis tahun 1930-an. Tak hanya itu, raja juga menghibahkan sebidang tanah yang terletak di Taman Regent, pusat kota London, sebagai balas jasa pada pemerintah Mesir yang telah menyediakan lahan untuk pembangunan Katedral Anglikan di Kairo.
Berbagai peristiwa seperti pecahnya perang dunia II, masalah di semenanjung India, mengakibatkan tertundanya pembangunan masjid tersebut sampai tahun 1970-an. Pembangunan baru dapat terlaksana sekitar enam tahun kemudian dan diresmikan 1977. Masjid baru ini diberi nama Masjid Pusat London lengkap dengan fasilitas Islamic Cultural Center-nya. Dan sampai saat ini, di daratan Inggris terdapat sebanyak 136 buah bangunan masjid. Tiap tahun jumlah ini terus mengalami peningkatan.
Dapat dipahami, meningkatnya jumlah tempat peribadatan tersebut mencerminkan pula makin bertambahnya angka umat Muslim di Inggris. Apalagi setelah ada kebijakan penyatuan kembali keluarga imigran yang berlaku sejak tahun 1960-an.
Imigran asal Pakistan dan Bangladesh tercatat merupakan komunitas Muslim terbesar. Jumlah mereka di tahun 1961, baru sekitar 25 ribu. Namun 10 tahun kemudian, angkanya telah menjadi 170 ribu. Sedangkan pada sensus penduduk tahun 1981, jumlah imigran kedua negara ini telah mencapai 360 ribu, sebanyak 135 ribu di antaranya kelahiran Inggris. Tahun 1991, meningkat sekitar 636 ribu jiwa.
Konsentrasi terbesar pemukiman komunitas Muslim umumnya berada di kota-kota besar. Hampir separo kaum Muslim Inggris tinggal di kota London dan sekitarnya. Adapun sisanya memilih menetap di West Midlands, Yorkshire serta wilayah sekitar kota Manchester.
Pola distribusi pemukiman kaum Muslim tidak merata. Secara etnis maupun geografis. Namun pada beberapa tempat, ditemui adanya konsentrasi tertentu imigran dari satu negara. Misalnya, imigran Muslim asal India tinggal di West Midlands, imigran Arab dan Iran menetap di kota Cardiff, Liverpool dan Birmingham, para imigran Turki-Siprus ada di kawasan timur London, dan imigran asal Pakistan-Bangladesh banyak di Bradford.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar