Peristiwa Kiamat





Semua orang didunia ini mengakui bahwa peristiwa kiamat, hancur dan musnahnya seluruh kehidupan dibumi ini pasti akan terjadi. Namun tidak seorangpun tahu kapan peristiwa itu akan terjadi. Musnah dan hancurnya seluruh kehidupan dibumi ini dapat dijelaskan secara ilmiah. Semua peralatan teknologi didunia ini mempunyai lifetime, jika habis lifetime-nya peralatan tersebut akan rusak dan tidak berfungsi lagi. Diyakini bumi, matahari, bulan dan seluruh system ditata surya dan alam semesta ini masing masing mempunyai life time. Diruang angkasa saat ini banyak ditemukan bintang yang sudah habis life time nya sedang sekarat dan dalam proses kemusnahan. Satu ketika matahari dan seluruh planet didalam tatasurya termasuk bumi ini juga akan mengalami nasib yang sama seperti bintang yang sedang sekarat itu.

Pada saat kiamat nanti akan terjadi kepanikan yang sangat dahsyat, Gedung-gedung dan bangunan bertingkat hancur ber-terbangan. Air laut dengan gelombang setinggi gunung naik kedaratan sampai puluhan kilometer menghanyutkan semua yang dilaluinya. Gunung-gunung meletus secara serentak, hingga hancur menjadi batu-batu panas yang beterbangan. Tanah belah dan merekah mengeluarkan lumpur dan lahar panas. Tidak ada satu tempatpun yang aman dimuka bumi ini. Tidak ada mahluk hidup yang bisa bertahan dari kehancuran dihari itu. Seluruh manusia panik, menyelamatkan diri masing masing. Harta benda tidak ada artinya lagi, orang tidak peduli lagi dengan emas, berlian, mobil dan rumah mewah yang dimilikinya. Mereka diliputi ketakutan yang sangat, berusaha menyelamatkan diri-masing masing dari keganasan alam diwaktu itu. Tidak ada tolong menolong dihari itu, setiap orang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, mereka tidak mampu menolong atau menyelamatkan istri, anak, suami, orang tua atau teman yang mereka sayangi. Manusia dalam keadaan panik, takut dan kalut, tidak berdaya menyelamatkan diri sendiri apalagi untuk menolong orang lain, mereka tidak perduli lagi dengan harta yang mereka miliki.

Peristiwa tersebut banyak dikisahkan dalam Al-Quran, antara lain :

1. Apabila terjadi hari kiamat, 2- terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). 3- (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), 4- apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,5- dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya,6- maka jadilah dia debu yang beterbangan, (Al Waqiah 1-6)

1. Apabila matahari digulung, 2.dan apabila bintang-bintang berjatuhan, 3. dan apabila gunung-gunung dihancurkan, 4. dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), .5 dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, 6.dan apabila lautan dipanaskan, (At Takwir 1-6)

1- Apabila langit terbelah,
2- dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh,
3- dan apabila bumi diratakan,
4- dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,
5- dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya). (Insyiqoq 1-5)

1. Hari Kiamat 2- apakah hari Kiamat itu? 3- Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? 4- Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran 5- dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (Al Qoriah 1-5)

Ketika Rasulullah ditanyakan tentang kapan terjadinya peristiwa kiamat itu, beliau mengambil sepotong kain, kemudian merobeknya hingga hampir putus. Beliau mengatakan antara aku dan saat kiamat seperti kain yang hampir putus ini (sudah sangat dekat). Pada kesempatan lain beliau mengatakan : Antara aku dan saat kiamat seperti telunjuk dengan ibu jari ini . Pernah juga beliau mengatakan bahwa antara beliau dengan saat kiamat sepeti saat asar dengan maghrib (sudah dekat), padahal antara Rasulullah dengan kita pada saat ini sudah berlalu sekitar 1400 tahun lebih.
Didunia maya banyak dibahas tentang kemungkinan terjadinya kiamat pada tahun 2012, berdasarkan calendar suku Maya di Amerika latin. Para ahli juga memperkirakan ada planet Raksasa (Nibiru) yang saat ini sedang bergerak menuju system matahari kita, Jika planet tersebut masuk kedalam orbit matahari bisa menimbulkan kekacauan pada bumi kita. Planet Nibiru adalah salah satu planet yang mengelilingi matahari dengan orbit berbentuk ellips. Planet ini mendekati orbit bumi setiap 3600 tahun sekali, diperkirakan 50 tahun lagi planet tersebut akan berada sangat dekat dengan bumi. Planet tersebut mempunyai medan magnit yang lebih kuat dari bumi dan arah putaran berlawanan arah dengan bumi, kehadiran planet tersebut dapat mengakibatkan timbulnya badai, gelombang besar, gempa dan kekacauan serta berubahnya arah putaran bumi , akibatnya matahari bisa terbit dari barat.nah kalau begini apa nggak jadi kacau. Ada juga para ahli yang memperkirakan satu ketika kelak akan terjadi tabrakan antara bumi dengan salah satu asteroid sekitar tahun 2036. Perusahaan film Hollywood juga membuat beberapa film yang menceritakan peristiwa tabrakan antara bumi dengan asteroid ini seperti Film Armagedon dan Deep impack. Kisah tentang planet Nibiru ini bisa anda dapatkan di Internet dengan kalimat kunci pencarian via goggle atau Yahoo ancaman planet nibiru
Saat kiamat itu sulit diperkirakan kapan terjadinya , tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya peristiwa kiamat selain Allah . Perhatikan firman Allah dalam surat Al Araaf 187 berikut ini:

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: Bilakah terjadinya? Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Al Araaf 187)

Kita tidak pernah tahu kapan terjadinya kiamat besar (total) yaitu hancur dan musnahnya bumi ini beserta semua isinya. Namun sebelum terjadinya kiamat total kita akan menemukan banyak peristiwa kiamat kecil, berupa bencana dan kehancuran pada sebagian wilayah dibumi ini. Pada akhir akhir ini kita banyak mendengar dan menyaksikan kiamat kecil yang merenggut nyawa ratusan ribu orang dalam tempo yang singkat. Misalnya bencana tsunami di Aceh yang merenggut nyawa 160.000 orang dalam sekejap mata, bencana jebolnya waduk situ Gintung, Gempa bumi dan badai di Muangthai dan China yang merenggut nyawa ratusan ribu orang dalam sekejap mata. Dan banyak lagi bencana alam lainnya yang mendatangkan kematian secara masal, semua itu terjadi secara tidak terduga dan dalam waktu yang sangat singkat.

Bukan tidak mungkin pada satu ketika akan terjadi becana dahsyat yang melenyapkan nyawa ratusan juta orang dalam waktu yang singkat, bukan ratusan ribu seperti yang sering terjadi dewasa ini. Apa yang terjadi jika sebuah asteroid raksasa sebesar kota Jakarta ini jatuh di laut Fasifik atau laut Atlantik. Gelombang laut setinggi gunung akan menghantam seluruh kota yang berada di pantai lautan Fasifik, Los Angeles, Sydney, Hongkong, Hawai, Tokyo, Jakarta, dan lain lain akan lenyap dalam sekejap mata. Puluhan bahkan ratusan juta orang akan tewas dalam sekejap mata. Jika Asteroid itu jatuh didaratan Asia, Eropa atau Amerika efeknya pun akan lebih parah lagi , debu dan batu akan berhamburan menutupi angkasa, dunia akan gelap selama bertahun tahun karena angkasa tertutup debu seperti pernah terjadi 65 juta tahun yang lalu yang menyebabkan lenyapnya Dinosaurus dari permukaan bumi. Suhu bumi akan turun drastis, kematian terjadi dimana mana.

Kejadian kiamat adalah kejadian yang tidak bisa dibantah, semua manusia yang hidup diabad modern ini mengakui bahwa pada suatu saat nanti kejadian tersebut pasti akan terjadi. Fakta hancur dan musnahnya kehidupan sekelompok orang dalam sekejap mata akibat bencana alam adalah kejadian nyata yang sering kita saksikan dizaman ini. Sama dengan fakta bahwa setiap orang yang hidup didunia ini pasti akan mengalami kematian, maka musnah dan berakhirnya semua kehidupan dibumi ini tidak ada seorangpun yang dapat membantahnya. Semua orang sepakat bahwa peristiwa kiamat pasti terjadi, namun mereka tidak sepakat bahwa sesudah kematian ada kehidupan lagi kelak diakhirat . Ada yang percaya bahwa dibalik kematian ada kehidupan lagi dialam akhirat kelak. Namun banyak pula manusia yang tidak percaya, mereka beranggapan bahwa kehidupan ini akan berakhir dengan datangnya kematian. Hidup hanya didunia ini saja, setelah datang kematian berakhir pulalah kehidupan itu. Pernyataan orang yang berpendapat seperti itu diabadikan dalam Al Quran surat al Mukminun ayat 37 , 82 dan Al Jatsiyah ayat 24 :

37- kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, (Al Mukminun 37)
Mereka berkata: Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? (Al Mukminun 82)

24- Dan mereka berkata: Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (Al Jatsiyah 24 )

Dunia ini hanyalah tempat singgah sementara, kehidupan yang sebenarnya dan abadi adalah kehidupan diakhirat kelak. Semua kita pasti akan mengalami kematian, mau tidak mau, suka atau tidak suka jika tiba saatnya kita akan dipaksa meninggalkan dunia ini. Ditempatkan Allah dialam Barzakh menunggu saat datangnya hari kiamat (kebangkitan). Mari kita persiapkan perbekalan untuk kehidupan sesudah mati kelak. Kematian dan peristiwa kiamat total hanya proses perpindahan dari alam dunia kealam akhirat, orang beriman dan yakin pada Allah dan kehidupan akhirat tidak pernah takut dan gentar menghadapi proses ini

Rahasia Isra Mi'raj


JEJAK ISRA` & MI’RAJ

Oleh: Marhadi Muhayar, Lc., M.Sh.



Peristiwa Isra` dan Mi’raj termasuk peristiwa sejarah yang sangat banyak mendapat perhatian dan perbincangan para ilmuwan sosial. Diantara ahli sejarah, ada yang sangat berlebihan dalam memandang kedudukan nabi Muhammad berikut mu’jizatnya, ada pula sebaliknya, mengingkari sama sekali keberadaan mujizat dalam perjalanan sejarah hidup seorang nabi.

Menurut Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buty, dalam bukunya "Fiqhus Sîrah An Nabawiyyah". Bahwa adanya pandangan yang mengingkari mu’jizat Nabi dalam peristiwa Isra` dan Mi’raj ini, berasal dari para orientalis yang turut mengkaji peristiwa Isra` dan Mi’raj tanpa terlebih dahulu didasari keimanan terhadap hal‑hal yang ghaib. Sehingga fenomena apapun dalam sejarah, selalu mereka ukur dengan logika akal yang terbatas. Diantara para orientalis yang memiliki pandangan seperti ini adalah Gustaf Lobon, Ougust Comte, Hume, Gold Ziher dan banyak lagi yang lainnya. Sebagai sebab utama dari pandangan mereka seperti ini adalah, karena tiadanya iman terhadap pencipta mujizat itu sendiri. Karena jika iman kepada Allah telah tertanam di dalam jiwa seseorang, maka akan mudah untuk mengimani segala sesuatu yang lebih mudah dari pada itu.

* Mulai Perjalanan Isra

Sumber kisah-kisah tentang perjalanan yang penuh misteri itu adalah kata‑kata pada permulaan Surah Al Israa’:

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (QS. Al Israa’ [17]: 1)



Dalam kitab sirahnya, Ibnu Ishaq menggambarkan kisah Isra` dan Mi’raj ini sebagai berikut: Suatu malam Jibril membawa nabi naik ke atas punggung samawi yang disebut Buraq; lalu Muhammad s.a.w.. mengadakan perjalanan bersama Jibril. Dan dalam perjalanan malam ke Yerussalem, Rasulullah diperlihatkan dengan berbagai keajaiban. Dan sesampainya di Masjidil Aqsha, Rasulullah bertemu dengan nabi‑nabi terdahulu, sekaligus mendapatkan penghormatan untuk mengimami shalat bersama mereka.

AI Buroq, dalam bahasa Arab menurut sebagian pendapat berasal dari kata "Al Barq" yang berarti kilat. Boleh ditafsirkan bahwa penggunaan nama ini dalam Al Qur'an adalah untuk menunjukkan kecepatan yang tiada tara dari jenis kendaraan ini.
Dalam perjalanan menuju Masjidil Aqsha, Rasulullah s.a.w. sempat singgah di suatu bukit yang penuh berkah, dimana Nabi Musa a.s. pernah menerima wahyu langsung dari Allah s.w.t, yaitu "Bukit Tursina", dan Rasulullah shalat dua rakaat di tempat itu. Setelah itu Rasulullah juga mampir di tempat kelahiran nabi Isa a.s, yaitu di sebuah bukit mubarakah yang disebut "Betlehem (“baitullhami”, bahasa Arabnya)" dan beliau pun shalat dua rakaat. Akhirnya sampai di "Baitul Maqdis". Di tempat suci inilah, beliau bertemu dengan nabi Ibrahim dan Musa di tengah kumpulan para nabi dan rasul Allah yang lain. Di tempat ini juga Rasulullah s.a.w. shalat sebagai imam bagi para nabi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa malaikat Jibril datang kepada Rasulullah dengan membawa dua gelas minuman, satu berisi anggur, dan satu lagi berisi susu. Kemudian Rasulullah memilih gelas yang berisi susu. Jibril berkata: "Engkau telah memilih Fithrah”. (HR. Bukhari dan Muslim).



2. Melanjutkan Perjalanan Mi'raj

Firman Allah s.w.t yang berkenaan dengan peristiwa Mi'raj atau naik ke langit ini, bisa kita temui dalam Surat An­ Najm:



"Sedang dia berada di ufuq yang tertinggi. Kemudian dia mendekat dan bertambah lebih dekat lagi, maka jadilah Dia dekat (kepada Muhammad) sejarak dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Lalu Dia menyampaikan kepada hamba‑Nya (Muhammad) apa yang telah Dia wahyukan. Hati Muhammad tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada Sorga tempat tinggal. Muhammad melihat Jibril ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatan Muhammad tidak berpaling dari yang dilihatnya itu, dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda‑tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An Najm [53]: 7‑18).



Kemudian Firman Allah s.w.t.,



“Sesungguhnya Alqur'an itu benar‑benar firman Allah, yang dibawa oleh utusan mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arsy, yang ditaati di sana (di alam Malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali‑kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang bakhil untuk menerangkan yang ghaib".(QS. At Takwir [81]: 19 ‑ 24).



Secara terperinci, peristiwa besar ini dapat kita baca dalam hadis‑hadis Rasulullah dan buku‑buku sirah kehidupannya beliau.

Ibnu Ishaq, dalam kitab Sirahnya menggambarkan peristiwa tersebut sebagai berikut: "Abu Said meriwayatkan, bahwa ia telah mendengar Rasulullah Bekata: “Setelah aku melakukan apa yang harus aku lakukan di Yerusalem, aku dibawa ke sebuah tangga (mi'raj), dan aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada itu. Itulah yang menjadi pandangan orang‑orang mati pada hari kebangkitan. Sahabatku Jibril, membuatku dapat memanjat sampai kami mencapai salah satu gerbang langit, yang disebut gerbang Garda. Di sana 1200 malaikat bertindak sebagai pengawal."

Di gerbang Garda ini, Isma'il a.s menanyakan nama Muhammad s.a.w. dan juga menanyakan apakah dia benar‑benar seorang Rasul. Setelah menerima suatu jawaban yang memuaskan, ia mengizinkan Rasulullah untuk melewati langit‑langit. Di langit yang paling rendah beliau melihat nabi Adam a.s. di hadapannya jiwa‑jiwa manusia berjalan dalam barisan. Beliau pun diperlihatkan penghukuman terhadap orang‑orang berdosa, yang sesuai dengan watak kejahatan mereka masing­-masing. Mereka yang telah menyalahgunakan harta anak yatim, harus menelan api, para lintah darat yang biasa mencekik kehidupan ekonomi rakyat lemah, diperlihatkan sebagai tubuh bengkak dihalau oleh buaya‑buaya ke dalam api untuk selanjutnya diinjak‑injak, dan banyak lagi model­-model siksaan yang lebih mengerikan disaksikan Rasulullah s.a.w. Rasulullah melanjutkan perjalanan ke lapisan langit berikutnya, dan bertemu dengan sebagian nabi sebelum beliau. Rasulullah melihat nabi Isa a.s. di langit keempat, nabi Ibrahim As di langit ketujuh, yaitu pada tingkat tertinggi yang memberikan isyarat kedudukan yang istimewa dan sangat khusus dalam pandangan umat Islam. Baik posisi beliau sebagai nenek moyang para nabi, maupun sebagai yang berjasa mendirikan Ka'bah bersama putranya Isma'il, serta sebagai hero spiritual yang telah menghancur‑leburkan berhala-­berhala. Sehingga di akhir perjalanan tersebut Rasulullah diajak memasuki surga.

Menurut Baihaqi dalam bukunya "Dalâ`ilun ­Nubuwwah", ketika Rasulullah kembali, tempat tidurnya masih hangat, dan tempayan air yang jatuh ketika beliau dibawa pergi, sama sekali belum tumpah. Maka perjalanan ke langit itu, merupakan sebuah perjalanan yang sangat spiritualistik dan ruhiyah, dimana didalamnya orang dapat hidup dalam satu waktu selama bertahun‑tahun, sebab kondisi materi atau jasmani yang berhubungan dengan ruh selama pengalaman itu, berada diluar rangkaian waktu yang merupakan ciptaan. Oleh sebab itu, para teolog Islam telah berbeda pendapat tentang perjalanan baginda Rasul ke langit itu, apakah secara jasmani atau ruhani saja. Menurut pendapat kaum Mu'tazilah (Mu'tazilah adalah salah satu mazhab teologi Islam yang lebih cenderung mendahulukan akal daripada nash), seluruh peristiwa itu hanya merupakan penglihatan hati semata, dan perjalanan itu adalah perjalanan ruhani tanpa jasmani. Namun pandangan ini telah banyak ditentang oleh para ulama terdahulu yang shaleh (As salafus Shaleh), seperti At-Thabari seorang ahli tafsir terkenal yang hidup pada awal abad ke‑10 M. Beliau berpendapat bahwa perjalanan Rasulullah itu benar‑benar terjadi secara jasmani dan rohani, karena menurut beliau Al-­Qur'an dengan tegas menyatakan bahwa "Allah telah memperjalankan hamba‑Nya pada malam hari" (Asraa bi 'abdihi lailan) dan bukan rûhan atau nafsan yang berarti "jiwa hamba‑Nya". Dan kenapa Rasulullah harus memerlukan sebuah tunggangan seperti Buraq, kalau perjalanan itu semata‑mata hanya penglihatan hati dan spiritual?

Masalah kontroversial lainnya adalah, apakah Rasulullah telah benar‑benar melihat Allah s.w.t. dengan kedua belah matanya, atau hanya dengan hatinya? Masalah ini, sangat erat kaitannya dengan aliran pemikiran yang diterapkan dalam menafsirkan firman Allah s.w.t surah An‑Najm:



"Sesungguhnya dia (muhammad) telah melihatnya pada waktu lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari apa yang dilihatnya, dan tidak pula melewatinya" (QS. An Nasjm [53]: 13‑17).



Surat ini menggambarkan dalam bagian pertamanya suatu penglihatan Nabi yang "melihatnya di ufuk tertinggi". Kata ganti "nya” dalam ayat 13 Surat An Najm tersebut dapat dirujukkan kepada Jibril, sebagai pembawa wahyu, dan dapat juga ditafsirkan sebagai berkaitan dengan Allah. Memang demikianlah kenyataannya, bahwa surat ini ditafsirkan sebagai gambaran dari peristiwa perjalanan Nabi ke langit (mi'raj). Sebagian berkata: Dia (Muhammad) melihat Jibril di ufuk tertinggi, sebagian lagi berkata bahwa dia melihat Allah dengan hatinya, sebagian lagi berkata, bahwa dia melihat Allah dengan kedua belah matanya. Mengenai siapa yang terbenar dari mereka, kita sependapat saja dengan Imam Qasthalani dalam kitabnya "Al‑Mawâhib Al‑Laduniyyah". Bahwa insya Allah semua mereka berbicara benar, sebab mereka hanya mengatakan apa yang telah mereka dengar. Dan perbedaan ini, boleh dikatakan sebagai perbedaan dalam penafsiran. Sedang peristiwa Isra` dan Mi’raj itu sendiri, sama‑sama diimani dengan penuh keyakinan yang seragam.

Hal lain yang merupakan keunggulan Nabi Muhammad atas semua nabi‑nabi lain, yaitu dalam kedekatan yang sedekat­-dekatnya ini. Dimana matanya tidak menyimpang dan tidak berpaling sedikitpun ketika melihat Allah, “Penglihatannya tidak berpaling dari apa yang dilihatnya itu, dan tidak pula melampauinya.” (QS. An ­Najm [53]: 17). Tidakkah Musa a.s. lemah lunglai ketika atribut-­atribut ilahi nampak olehnya melalui gunung yang hancur luluh? Dan beliau hanya dapat mendengar suara Tuhannya tanpa bisa melihat. Sebagaimana termaktub dalam firman Allah s.w.t. QS. Al A’raaf [7]: 143.



Sedangkan Nabi Muhammad s.a.w. tanpa mengalihkan matanya, telah mengalami melihat Allah , “Maka jadilah Dia dekat kepada Muhammad sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.” (QS. An Najm [53]: 9), hal ini sangat dikuduskan oleh para penyair sufi dengan hiperbola‑hiperbola yang amat berani dan penggambaran yang amat berlebilian. Barangkali gambaran yang amat ringkas tentang peristiwa ini diberikan oleh Jamali Kanboh, seorang penyair Indo‑Persia abad ke‑15, yang mengungkapkan misteri ini dalam bait syairnya yang terkenal. “Musa pingsan kala Sifat‑sifat Allah menjelma, namun kau tersenyum kala melihat dzat‑NYA.”

Di sana Rasulullah menyaksikan orang‑orang yang memusuhi agama, orang‑orang kafir, zhalim dan munafik, orang‑orang yang selalu mengatakan kebenaran tapi tidak melakukan, orang‑orang yang suka mencela, para penzina, pemakan harta anak yatim, pemakan riba, pengkhianat, dan banyak lagi bentuk kejahatan yang mendapat siksaan dari Allah atas kejahatan yang mereka lakukan.

Rasulullah pun menyaksikan sekelompok orang beriman dari setiap masa mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan atas amal kebaikan yang mereka lakukan di dunia. Dimana dalam suatu perjalanannya itu, Rasulullah menemui bau yang sangat wangi. Kemudian beliau bertanya kepada Jibril, bau apakah ini wahai Jibril? Jibril menjawab: “Ini adalah bau Masyithah (pengasuh anak fir'aun) dan keluarganya.”

Barangkali ada orang yang akan bertanya, bagaimana mungkin seorang yang hidup bisa melihat kehidupan orang‑orang mati? Sebagai jawaban dari pertanyaan ini, kita mengatakan, bahwa peristiwa Isra` dan Mi’raj ini adalah sebu ah rihlah ilahiyah (perjalanan yang diatur Tuhan) yang khusus untuk nabi Muhammad s.a.w. Dimana tidak akan ada sulitnya bagi Allah s.w.t. untuk merubah sebuah kondisi yang bersifat materi kepada sebuah kondisi yang bersifat rohani atau sebaliknya. Sebagaimana mudahnya perpindahan arwah orang mati dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Hanya orang yang mempunyai penyakit hatilah yang selalu meragukan tentang kemahakuasaan Allah terhadap hal‑hal yang mereka anggap mustahil menurut akal mereka yang sangat terbatas.



3. Di Sidratul Muntaha

Setelah menyaksikan berbagai macam peristiwa dalam perjalanan mi'raj ke langit tersebut, akhirnya Rasulullah dan malaikat Jibril melampaui langit yang ketujuh dan sampai ke suatu tempat yang bernama Sidratul Muntaha. Di sinilah Rasulullah melihat ayat‑ayat ilahiyah yang tidak bisa disifati. Dan di sini juga Rasulullah melihat Jibril berubah bentuk secara tiba‑tiba. Jibril muncul dalam bentuknya yang asli sebagaimana diciptakan oleh Allah s.w.t..

Di Sidratul Muntaha ini pula Jibril mengatakan kepada Rasulullah, Wahai Rasulallah, Saya mohon ma'af, karena hanya sampai disini saja saya bisa naik bersama anda. Jika saya naik lebih dari ini walaupun selangkah, maka niscaya saya akan terbakar. Masing‑masing dari kita mempunyai kekuatan, tempat dan derajat tertentu. Maka dari itu, majulah engkau terus melanjutkan perjalanan Mi'rajmu yang diberkahi ini. Majulah engkau terus dengan cahayamu yang mulia. Rasulullah s.a.w.. terus maju, beliau hanya maju sendiri menemui Tuhan, yang akhirnya hijab‑hijab penutup seluruhnya menjadi tersingkap, dan hanya tinggal satu hijab, di sinilah Rasulullah melihat apa yang belum pernah dilihat oleh mata, dan belum pernah terbayang oleh hati manusia. Mata kasar Rasulullah tidak mampu menahan kekuatan cahaya ilahiyah ini, akhirnya Allah membukakan mata hati Rasulullah, untuk menyaksikan keindahan yang tiada berujung ini.

Ketika Rasulullah menyaksikan cahaya Tuhannya, beliau berucap: "Attahiyyaatu lillaah was sholawaatut thayyibaat" (Segala puji bagi Allah dan penghormatan yang setinggi‑tingginya). Kemudian Allah pun membalas ucapan mulia ini: "Assalaamu 'alaika ayyuhan Nabiy warahmatullahi wabarakaatuh" (Keselamatan atasmu wahai Nabi, rahmat dan berkat Allah untukmu). Selanjutnya para Malaikat pun berkata: "Assalaamu 'alaina wa 'ala 'ibaadillaahis shalihin" (Keselamatan atas kita semua dan atas hamba‑hamba Allah yang sholeh).

Rasulullah tak henti‑hentinya memuji Allah dengan segala bentuk pujian dan do'a. Tentang hal ini, Allah s.w.t. berfirman:



"Kemudian dia mendekat, Ialu bertambah dekat lagi. Maka jadilah Dia dekat pada Muhammad sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu Dia menyampaikan kepada hamba‑Nya (Muhammad) apa yang telah Dia wahyukan”.(QS: 53: 8 ‑10).



Tentang pertemuan Rasulullah dengan Tuhannya ini, Dr. Abdul Halim Mahmud, dalam bukunya "Dalâilun ­Nubuwwah wa Mu jizâtir Rasur” mengatakan: "Oleh karena Muhammad s.a.w. merupakan Rasul yang paling sempurna, maka sewajarnyalah ia menjadi rasul yang paling dekat kepada Allah s.w.t. Dimana beliau telah menjelajahi bumi dan langit tertinggi, melampaui seluruh alam materi, dan sampai ketempat yang tidak pernah tercapai oleh manusia manapun, bahkan ke suatu tempat yang tidak bisa di capai oleh Jibril a.s. sekalipun. Beliau telah melihat tanda‑tanda kebesaran Tuhannya yang Maha Besar. Adapun tentang bagaimana hakekat kedekatan dan penglihatan Rasulullah terhadap Tuhannya ini, tidak ada yang lebih tahu kecuali Allah dan Rasul‑Nya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



MENANGKAP RAHASIA ISRA’ MI’RAJ

Oleh : Agus Handoko, S. Th. I



Manusia diciptakan oleh Allah s.w.t. memiliki akal fikiran sehingga mampu memahami ayat-ayat QauliyahNya (al-Quran) dan ayat-ayat KauniyahNnya (alam semesta). Ketika Allah s.w.t. menunjukkan tanda-tanda kebesaranNya melalui diperjalankannya Rasulullah dengan waktu yang amat singkat (satu malam) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu dilanjutkan menuju ke Sidratul Muntaha, sepintas menurut hitungan akal manusia peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi.

Namun dibalik peristiwa tersebut ada rahasia Allah s.w.t. yang Ia berikan secara tersurat maupun tersirat, jika manusia dapat mengkaji dan memahaminya. Diantara rahasia-rahasianya adalah :

* Penghormatan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj hanya dialami oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan tidak dialami oleh para nabi yang lain. Ini merupakan penghormatan Allah s.w.t. kepada Rasululah Muhammad s.a.w. sekaligus pertanda bahwa beliau mempunyai derajat yang jauh lebih tinggi dari para Nabi sebelumnya. Isra' Miraj ini juga tanda kesempurnaan kasih sayang Allah kepada manusia. Karenanya Nabi Muhammad s.a.w.. diutus oleh Allah s.w.t. kepada seluruh manusia untuk sebagai rahmat semesta alam, sebagaimana firman Allah s.w.t.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al Anbiya’ [21]: 107)

* Persiapan Kekuatan Ruhani dan Jasmani.

Isra’ dan Mi’raj Nabi merupakan persiapan kekuatan ruhani dan jasmani Rasulullah s.a.w. untuk mengemban risalah (tugas berat), cobaan berhijrah ke Madinah, serta beratnya tugas jihad fi sabilillah. Perjalanan Isra' dan mi'raj tersebut dimulai dari Masjid al-Haram dan berakhir di Masjid al-Aqsha. Perjalanan tersebut juga untuk mengenang turunnya wahyu pertama yang diterima Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Ismail a.s. dan turunnya wahyu kedua yang diterima oleh Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s.. Napak tilas tempat bersejarah tersebut merupakan diantara risalah yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

* Ujian Keimanan Ummat Nabi Muhammad s.a.w.

Isra’ dan Mi’raj Nabi merupakan ujian keimanan, untuk mengetahui siapa di antara para sahabat itu yang imannya benar-benar dan siapa yang imannya itu palsu. Sebagaimana kita tahu bahwa setelah selesai diisra’kan dan dimi’rajkan, pagi harinya Rasulullah mengumpulkan umat dan kaumnya untuk diberitahukan tentang perjalanannya Isra’ dan Mi’raj itu yang ditempuh hanya semalam itu.

Peristiwa aneh itu tentu tidak masuk di akal mereka, karena itu banyak di antara mereka yang mendustakan Nabi. Namun sayidina Abu Bakar 100 % mempercayainya, dia mengatakan, “Hai Muhammad, jika peristiwa tersebut lebih dari itu saya percaya”. Sehingga Abu Bakar diberi gelar al-Shiddiq (yang sangat benar). Dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, Rasulullah akhirnya mengetahui siapa yang imannya kuat dan patut diajak berjuang dan hijrah ke Madinah untuk menyebarkan ajaran Islam kepada umat manusia. Dalam hal ini Allah s.w.t. berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka”. (QS. Al Israa’ [17]: 60).



Demikianlah Allah menguji umat manusia dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj untuk melihat kebenaran keimanan mereka. Banyak dari mereka yang tidak percaya akan peristiwa itu, karena tidak masuk akal pada waktu itu. Seandainya Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada masa sekarang, pastilah semua orang percaya, karena sekarang sudah ada kapal terbang yang mempunyai kecepatan tinggi, bisa mempercepat perjalanan, seperti halnya Buraq yang digunakan oleh Nabi Muhammad dalam Isra’ dan Mi’rajnya. Namun itu semua kembali kepada keimanan ummat Nabi Muhammad s.a.w. pada masa itu.

* Tasliyah (Hiburan)

Isra’ dan Mi’raj ini merupakan anugerah khusus Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w.. untuk menghibur beliau yang sedang dalam keadaan duka dan sedih yang amat sangat dalam. Karena pada tahun yang sama harus ditinggalkan oleh isteri tercintanya Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Dua orang tersebut merupakan motivator dan pelindung beliau dalam menyebarkan misi dakwah Islam kepada umat manusia.

Jika diumpakan ada seorang wanita ditinggalkan suaminya dan harus menanggung kesedihan yang amat dalam, maka untuk mengurangi kesedihannya itu, orang tua atau sahabat dekatnya perlu mengajaknya berjalan-jalan di tempat yang bisa menghilangkan kesedihan, dengan cara melihat pemandangan yang indah-indah.

Demikianlah Rasulullah s.a.w.. yang sedang dalam kesedihan itu diperjalankan oleh Allah s.w.t. dengan Isra dan Mi’raj dan diperlihatkan macam-macam pemandangan yang menyenangkan, sehingga dapat mengurangi kesedihannya itu. Dengan cara diperjalankannya tersebut, maka timbullah keyakinan dalam diri Nabi bahwa Tuhan yang mengisra’ dan mi’rajkan itu pasti berkuasa penuh untuk menolongnya dalam segala hal, khususnya menghadapi musuh-musuhnya dalam berjuang menyampaikan ajaran Islam.

* Keistimewaan Ibadah Shalat.

Bahwa pada malam Isra’ dan Mi’raj, Allah s.w.t. mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam kepada Nabi dan umatnya. Shalat sebagai kewajiban yang berwaktu-waktu tersebut dapat menjadi media berdialog dengan Tuhan dan melaksanakan penghambaan kepada-Nya. Mengapa untuk menerima perintah shalat itu Nabi harus datang menghadap langsung kepada Tuhan?, tidak seperti halnya perintah zakat, puasa dan haji. Hal ini menunjukkan bahwa shalat punya kedudukan yang tinggi, karena perintah shalat tersebut diterima Nabi dari Allah s.w.t. secara langsung dan tidak lewat perantara.

Hendaklah kita ingat bahwa Rasulullah s.a.w. telah memperoleh kebanggaan dari peristiwa Isra' Mi'raj. Karena Isra' Miraj ini seakan menjadi simbol kerinduan seorang hamba untuk terus dapat berdialog dengan Tuhannya. Sehingga Nabi s.a.w. sendiri merasa tidak memperoleh kelezatan kecuali pada saat 'berdialog' dengan Allah s.w.t. Rasulullah s.a.w.. mengatakan: “Dan hiburanku dijadikan pada shalat”.

Dari sini kita tahu bahwa shalat itu merupakan pembersihan hati yang akan membawa seorang hamba kepada nuansa yang menghibur. Isra’ Mi’raj ini juga bisa menjadi simbol perjalanan rohani kepada Tuhan. Karena itu siapa ingin "diisra’ dan mi’rajkan" Tuhannya, maka hendaklah ia memelihara shalat dan selalu munajat kepada Tuhannya. Dan jelaslah bahwa antara Isra’ Mi’raj dan Shalat ada kaitan yang sangat erat, karena shalat dihasilkan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Dari uraian menangkap rahasia peristiwa Isra' Mi'raj ini, manusia seakan diajak oleh Allah s.w.t. untuk selalu mengkaji dan memahami setiap peristiwa yang Allah s.w.t. gambarkan dalam ayat-ayat Qauliyah maupun KauniyahNya.
Powered By Blogger